Maduro dan Flores diperkirakan akan segera dihadapkan ke pengadilan federal di Manhattan dalam waktu dekat. Proses ini berkaitan langsung dengan dakwaan yang telah disiapkan sejak lima tahun lalu, meskipun selama ini Maduro masih menjabat sebagai presiden aktif.
Dalam berkas perkara tersebut, terdapat beberapa nama lain yang turut didakwa, termasuk putra Maduro, pejabat tinggi keamanan Venezuela, hingga pemimpin kelompok kriminal Tren de Aragua. Namun, sebagian besar dari mereka dilaporkan belum berada dalam tahanan.
Presiden Trump memastikan bahwa proses hukum akan tetap berjalan tanpa kompromi. Ia menegaskan bahwa Maduro dan istrinya akan diadili di wilayah Amerika Serikat dan menghadapi seluruh konsekuensi hukum yang berlaku.
Sementara itu, muncul pertanyaan besar terkait masa depan kepemimpinan Venezuela. Delcy Rodríguez menyatakan akan mengambil alih tugas pemerintahan untuk sementara, namun menegaskan bahwa dirinya tidak menggantikan posisi presiden.
Di sisi lain, Trump mengklaim bahwa pemerintahan transisi telah dibentuk dan Amerika Serikat akan berperan dalam mengarahkan Venezuela menuju stabilitas baru. Klaim tersebut langsung dibantah oleh pihak Caracas.
Pengamat Amerika Latin menilai situasi ini berpotensi menciptakan kekosongan kekuasaan yang berbahaya. Kepala Program Venezuela di Washington Office on Latin America, Laura Dib, menyebut kondisi saat ini sebagai “transisi tanpa transisi”, di mana tidak ada kejelasan otoritas yang sah.
Hingga Minggu pagi, 4 Januari 2026, nasib hukum Nicolás Maduro, status kepemimpinan Venezuela, serta langkah lanjutan Amerika Serikat masih menjadi tanda tanya besar yang menyita perhatian dunia internasional.***