Harga Minyak Dunia Terancam Melonjak, Blokade Selat Hormuz Picu Kekhawatiran Global

photo author
Papalius, Galeri Sumba
- Selasa, 14 April 2026 | 11:08 WIB
Harga Minyak Dunia Terancam Melonjak, Blokade Selat Hormuz Picu Kekhawatiran Global (Ist)
Harga Minyak Dunia Terancam Melonjak, Blokade Selat Hormuz Picu Kekhawatiran Global (Ist)

Di tengah ketidakpastian tersebut, pemerintah AS berupaya menjaga stabilitas pasokan global dengan meningkatkan produksi minyak dari negara lain, termasuk Venezuela. Kebijakan ini diambil sebagai langkah darurat untuk mengurangi tekanan terhadap pasar energi dunia.

Data terbaru menunjukkan produksi minyak Venezuela mengalami peningkatan signifikan sejak awal tahun 2026. Lonjakan ini didorong oleh reformasi sektor energi serta masuknya investasi dari perusahaan besar seperti Chevron.

Baca Juga: Bansos PKH dan BPNT April 2026 Mulai Cair Lebih Cepat, Ini Cara Cek Penerima dan Rincian Bantuan

Sejak awal Januari 2026, Venezuela dilaporkan telah menjual sekitar 150 juta barel minyak mentah, dengan peningkatan produksi mencapai 25 persen. Langkah ini menjadi salah satu strategi untuk menutup potensi kekurangan pasokan akibat terganggunya jalur distribusi di Timur Tengah.

Meski demikian, para analis menilai upaya tersebut belum sepenuhnya mampu menggantikan peran Selat Hormuz dalam rantai pasok energi global. Ketergantungan dunia terhadap jalur ini masih sangat tinggi, sehingga setiap gangguan akan berdampak luas terhadap harga minyak dan stabilitas ekonomi global.

Sejumlah pengamat juga mengingatkan bahwa lonjakan harga minyak akibat konflik geopolitik bukanlah hal baru. Sejarah mencatat, krisis serupa pernah terjadi pada beberapa dekade sebelumnya dan selalu berdampak signifikan terhadap perekonomian dunia.

Baca Juga: Cara Cek Bansos Kemensos 2026 Lewat HP, Praktis Tanpa Ribet dari Rumah

Saat ini, pasar energi berada dalam kondisi yang sangat sensitif terhadap perkembangan situasi di Timur Tengah. Setiap eskalasi konflik atau kebijakan baru yang berkaitan dengan jalur distribusi minyak dapat langsung memicu fluktuasi harga.

Dengan kondisi tersebut, banyak negara mulai mengambil langkah antisipatif, termasuk dengan meningkatkan cadangan energi dan mencari alternatif pasokan dari wilayah lain.

Krisis di Selat Hormuz menjadi pengingat betapa pentingnya stabilitas geopolitik dalam menjaga keseimbangan ekonomi global. Selama jalur ini belum sepenuhnya kembali normal, tekanan terhadap harga minyak diperkirakan masih akan terus berlangsung.

Situasi ini juga berpotensi berdampak pada berbagai sektor lain, mulai dari transportasi hingga harga kebutuhan pokok di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Pemerintah di berbagai belahan dunia kini terus memantau perkembangan situasi dan menyiapkan langkah mitigasi guna menghadapi kemungkinan terburuk dari krisis energi global yang sedang berlangsung.***

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Papalius

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Paus Fransiskus Dirawat Intensif, Kondisi Masih Kritis!

Minggu, 23 Februari 2025 | 15:26 WIB
X